-
Royal Golden Eagle (RGE) berkomitmen untuk menghilangkan deforestasi dalam rantai pasoknya sejak tahun 2016. Sembilan tahun kemudian, rantai pasok pulp & kertas RGE terus bersumber dari konsesi kayu pulp yang secara aktif menebangi hutan hujan melalui pabrik serpih kayu yang kontroversial, PT Balikpapan Chip Lestari (PT BCL).
-
Pedoman baru yang diterbitkan oleh Forest Stewardship Council (FSC) menyatakan bahwa pabrik serpih kayu PT BCL kini dianggap 'di bawah kendali keuangan' RGE dan oleh karena itu menjadi bagian dari grup perusahaannya. Dengan demikian, RGE terus melanggar komitmen Tanpa Deforestasi yang mendasari upayanya untuk bergabung kembali dengan FSC.
-
Catatan pemerintah dan analisis satelit menunjukkan bahwa pabrik serpih kayu PT.BCL - yang secara eksklusif memasok pabrik pulp RGE di Tiongkok - telah bersumber dari dua perkebunan kayu pulp yang telah menebang 5.565 hektar hutan alam antara tahun 2020-2024.
-
Bank raksasa Jepang, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG), terus membiayai divisi pulp RGE, memberikan kredit sebesar US$222 juta kepada APRIL antara tahun 2020-Juli 2025, termasuk berkontribusi sebesar US$95 juta untuk pinjaman sindikasi pada tahun 2024.
LIHAT PENELITIAN INI DI STORYMAP >>
Hubungan Deforestasi Royal Golden Eagle
Royal Golden Eagle (RGE), pemasok utama viskosa, kertas, tisu, dan kemasan global, terus mendapatkan pasokan dari pemasok yang menebang hutan hujan Indonesia, meskipun grup tersebut telah mempublikasikan komitmennya untuk menghilangkan deforestasi dari rantai pasoknya pada awal tahun 2016.Catatan bea cukai, analisis satelit, dan data rantai pasok yang dikumpulkan oleh pemerintah Indonesia menunjukkan bahwa produsen serpih kayu Indonesia yang memasok Asia Symbol, pabrik pulp raksasa RGE di Tiongkok, telah memasok kayu dalam jumlah besar dari dua perkebunan kayu pulp yang membuka lebih dari 5.500 hektare hutan alam antara tahun 2020-2024 di Provinsi Kalimantan Timur, di Pulau Kalimantan. Investigasi lapangan oleh Auriga telah mendokumentasikan deforestasi yang terus berlanjut hingga tahun 2025.







Rantai Pasok Deforestasi
Analisis citra satelit dan pengamatan lapangan menunjukkan bahwa sejak tahun 2020, lebih dari 5.500 hektare hutan hujan - setara dengan luas lebih dari 7.000 lapangan sepak bola - telah dibuka untuk perkebunan kayu pulp di wilayah konsesi tetangga PT Sendawar Adhi Karya (PT SAK) dan PT Bakayan Jaya Abadi (PT BJA), menurut analisis satelit penginderaan jauh yang ditugaskan oleh RAN (metodologi tersedia di bawah).Secara kolektif, PT SAK dan PT BJA mengirimkan seluruh kayu hutan tanaman mereka—lebih dari 400.000 meter kubik kayu pada tahun 2024—ke pabrik serpih PT.BCL menurut data yang dilaporkan PT.BCL kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia. Pada tahun yang sama, catatan pengiriman menunjukkan bahwa PT.BCL kemudian mengekspor 100% serpih kayunya—lebih dari 800.000 ton senilai lebih dari US$70 juta, ke Asia Symbol, salah satu pabrik pulp raksasa milik RGE di Rizhao, Provinsi Shandong, Tiongkok. Catatan pengiriman tersebut dikonfirmasi dengan laporan resmi yang disampaikan pabrik serpih kayu tersebut kepada Pemerintah Indonesia serta analisis pergerakan kapal yang mengangkut serpih kayu antara Balikpapan, Indonesia dan Rizhao, Tiongkok menggunakan data pelacakan kapal.
Pemilik manfaat utama PT BCL disembunyikan oleh perusahaan cangkang lepas pantai, yang memiliki banyak tumpang tindih dengan grup perusahaan RGE. Meskipun RGE menyangkal memiliki atau mengendalikan PT BCL, produsen chip tersebut tampaknya merupakan fasilitas yang terintegrasi secara vertikal dalam rantai pasokan pulp RGE, yang secara eksklusif memasok RGE dan beroperasi dari kompleks industri yang sama dengan kilang minyak sawit RGE di Kutai, yang juga berbagi pelabuhan untuk pengiriman.
Bentang Alam Hutan Sungai Mahakam
Konsesi PT. SAK dan PT. BJA berada di Kabupaten Kutai Barat, di Daerah Aliran Sungai Mahakam yang perkasa - sungai terbesar ketiga di Pulau Kalimantan. Hulu Sungai Mahakam (‘Mahakam Ulu’) memiliki beberapa kawasan hutan hujan utuh terluas yang tersisa di Indonesia. Namun, Mahakam terancam oleh berbagai industri termasuk pertambangan batu bara, kelapa sawit, penebangan hutan, dan dalam hal ini, perkebunan kayu pulp yang terus memecah hutan hujan yang tersisa di Daerah Aliran Sungai Mahakam.




MUFG gagal melaksanakan komitmen deforestasinya
Megabank Jepang, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG), merupakan kreditor penting bagi Royal Golden Eagle Group, baik di divisi pulp maupun kelapa sawitnya. MUFG merupakan kreditor terbesar kedua bagi operasional RGE di Indonesia dan telah bertindak sebagai arranger utama dan penasihat keberlanjutan untuk Pinjaman Terkait Keberlanjutan senilai miliaran dolar bagi grup tersebut. Data Forests & Finance menunjukkan bahwa MUFG telah menyediakan US$222 juta kepada perusahaan pulp RGE, APRIL, antara tahun 2020-Juli 2025, termasuk berkontribusi sebesar US$95 juta untuk pinjaman sindikasi pada tahun 2024.Pada tahun 2021, MUFG mengadopsi kebijakan "Tanpa Deforestasi, Tanpa Lahan Gambut, Tanpa Eksploitasi" (NDPE) untuk divisi kelapa sawitnya, dan kemudian memperluasnya pada tahun 2023 untuk mencakup klien pulp dan kertasnya. Namun, bank tersebut belum banyak mengungkapkan bagaimana rencananya untuk menerapkan kebijakan ini dan mengintegrasikannya ke dalam proses uji tuntas dan manajemen risiko. MUFG belum mengungkapkan tanggal batas waktu yang jelas atau komitmen yang mengikat untuk mencapai portofolio bebas deforestasi. Bank tersebut jauh dari harapan yang ditetapkan oleh sekelompok investor institusional terkemuka pada tahun 2024 untuk mengatasi deforestasi.
Terdapat semakin banyak bukti bahwa RGE mengoperasikan jaringan kompleks operasi 'di luar neraca', atau 'perusahaan bayangan', yang terus mendorong deforestasi di seluruh Indonesia (lihat laporan dari tahun 2020, 2023, 2024). Pemilik manfaat utama dari perusahaan-perusahaan bayangan ini dikaburkan oleh perusahaan-perusahaan lepas pantai di yurisdiksi kerahasiaan. Namun, beberapa jabatan direktur yang tumpang tindih, sumber daya bersama, serta kesaksian karyawan menunjukkan bahwa operasi-operasi ini secara efektif dikendalikan oleh Royal Golden Eagle. RGE membantah keterlibatannya dalam operasi-operasi ini.
Untuk mengatasi deforestasi yang terjadi dalam pinjaman sektor pulp MUFG, berbagai inisiatif multipihak merekomendasikan bank untuk menerapkan kebijakan dan uji tuntas mereka pada tingkat keseluruhan grup perusahaan klien, alih-alih hanya pada bisnis atau anak perusahaan tertentu yang menerima pinjaman bank. Pendekatan ini didukung oleh Institutional Investor Group on Climate Change (IIGCC), Accountability Framework Initiative (AFi), Deforestation-Free Due Diligence Guide, dan penilaian kebijakan Forests & Finance.
Royal Golden Eagle’s Response (11 Dec 2025)
Dear Rainforest Action Network,
This is in response to your letter dated 24 November, 2025 regarding wood supply received by Asia Symbol from its supplier PT. Balikpapan Chip Lestari (BCL), specifically the wood supply sourced by BCL from companies PT Sendawar Adhi Karya (SAK) and PT Bakayan Jaya Abadi (BJA). In your letter you stated that you had evidence that between 2020 and 2024 SAK and BJA had converted forest areas into plantations in their concessions in East Kalimantan.
We take all such allegations seriously. Asia Symbol investigated your claims and preliminary analysis of the concessions of the two suppliers to BCL indicates that land cover change did occur in the concessions of SAK and BJA between 2020 and 2024 and that this land cover change was likely non-compliant with our no-deforestation and sustainable sourcing policies and requirements.
As you have noted in your letter, this is not the first time that compliance by BCL and its suppliers with our policies has come into question. Asia Symbol had in 2023 requested BCL to suspend supply from its supplier PT. Industrial Forest Plantation (IFP) after claims that IFP had conducted non-compliant plantation establishment and BCL had implemented that suspension.
Based on the preliminary findings of our investigation regarding supply to BCL by SAK and BJA, and following the earlier issues with BCL and its then supplier IFP in 2023, Asia Symbol has taken the decision to immediately cease all supply from BCL. Asia Symbol and any other RGE companies will not source from BCL in the future.
Asia Symbol’s decision indicates the seriousness with which we take issues of non-compliance with our wood sourcing and sustainability policies and processes. In addition to immediately ceasing wood sourcing from BCL, Asia Symbol is continuing to review its wood supply due diligence and compliance systems to ensure they are rigorously applied to and by every supplier, and that their application is strengthened.
We ask that our response above is published in full in your upcoming report.
Sincerely,
Lucita Jasmin
Group Sustainability Director
Notes: Semua link yang dirujuk aktif pada 18 Desember 2025 – Auriga Nusantara menyimpan salinannya – kontak info@auriga.or.id.


